Dalam sistem demokrasi,
setiap orang berhak unjuk diri berkompetisi mengikuti pemilu, selama orang
tersebut mampu memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah ditentukan. Namun
berkompetisi dalam pemilu tentu tidak semudah mengucapkan lafal “saya siap maju”.
Banyak hal yang harus dipersiapkan dan diperhitungkan. Salah satu yang terpenting
adalah sumber pendanaan.
Dalam sebuah pemilu, kontestan membutuhkan biaya politik yang
tak sedikit jumlahnya. Biaya politik yang tinggi membuat para kontestan baik
perorangan maupun partai politik membutuhkan sumber pendanaan yang memadai,
terutama untuk kebutuhan kampanye dan merawat konstituen. Biaya politik yang
tinggi ini seharusnya menjadi peringatan bagi alam demokrasi, bahwa virus
kapitalisme siap menyerang.
Pemilihan Penguasa melalui pemilu membutuhkan pendanaan besar
untuk membangun citra, mengenalkan calon ke tengah masyarakat, membujuk
pemilih, belum lagi yang lebih menguras harta yaitu untuk mendapatkan kendaraan
partai dan menggerakkan mesin partai, sungguh luar biasa mahalnya. Dengan sifat
seperti itu, sistem pemilu butuh pengawalan ketat agar cita-cita demokrasi bisa
kembali pada tujuan awalnya.
Masuk ke dalam sistem politik berbiaya tinggi hanya bisa
dilakukan mereka yang memiliki modal besar. Terkadang modal terkenal dan
ketokohan saja seringkali belum cukup. Ditambah lagi pada zaman sekarang ini, saat
ekonomi sedang dalam masa sulit, rakyat tetap butuh makan, dampaknya rakyat
terformat menjadi pragmatis dan melihat kepentingan sesaat. Ini juga tidak
terlepas dari didikan politik pragmatis yang diperlihatkan para politisi dan
penguasa sehingga dalam kondisi seperti itu, Politik Uang menjadi hal yang lumrah.
Biaya politik yang tinggi pada akhirnya memaksa calon
penguasa menarik cukong-cukong kapitalis masuk kedalam sistem perpolitikan.
Inilah pintu gerbang bagi kaum-kaum kapitalis masuk dan kemudian perlahan
menguasai jalannya pemerintahan dan perpolitikan Indonesia.
Dalam kamus kapitalis, motivasi yang ada hanyalah motivasi
materi dan mendapatkan keuntungan. Sistem politik yang melibatkan modal akhirnya
dikelola seperti mengelola industri, menjadi sebuah industri politik. Biaya
yang dikeluarkan dianggap sebagai modal yang ditanam dan harus kembali berikut
keuntungannya. Dalam sistem seperti itu, politik transaksional menjadi biasa.
Jika politisi atau calon penguasa tidak memiliki modal yang cukup, modal itu
bisa didapatkan dari para cukong kapitalis yang siap sedia pinjamkan modal.
Lahirlah kolaborasi (persekongkolan) antara pemodal dengan politisi calon
penguasa. Biaya yang diberikan cukong adalah modal yang ditanam, dan tentu saja
harus kembali berikut keuntungannya. Penguasa yang terpilih nantinya harus
merealisasikan atau setidaknya memberi “jalan pelicin”. Akhirnya disamping
kepentingan pribadi, kepentingan para cukong juga menjadi prioritas.
Dengan persekongkolan yang tercipta, biaya politik tidak lagi
menjadi beban yang begitu berat bagi para politisi yang akan maju bertarung
dalam pemilu. Semakin besar modal yang dimiliki maka akan semakin besar pula
peluang menang. Kontestan-kontestan pemilu mulai mencari cara agar mereka dapat
menang dalam pertarungan. Ada yang menggunakan cara kampanye besar-besaran,
membagi-bagikan sembako, memperbaiki tempat-tempat ibadah, hingga memberikan
uang secara langsung. Hal tersebut tentunya membutuhkan biaya yang sangat
tinggi, tapi sang calon penguasa mampu menjalankan aksinya dengan bantuan yang
didapatkan dari para cukong.
Kontestan dengan modal besar yang menyogok rakyat
dengan uangnya akan berhasil meraih “kursi empuk” sebagai sang penguasa yang
selanjutnya punya kuasa atas jalannya
pemerintahan. Pemilu kapitalis telah dimenangkan oleh politisi-politisi
yang berkolaborasi dengan para cukong. Tentunya kolaborasi tersebut tidak hanya
sebatas pemilu. Kolaborasi akan terus berlanjut saat pemerintahan itu berjalan karena
sebelumnya sudah terjalin kesepakatan antara politisi dan cukong kapitalis, bahwa
saat politisi duduk sebagai penguasa maka sang politisi harus memberikan
konsensi dan keuntungan bagi kelancaran proyek-proyek pemodal kapitalis.
Untuk menegembalikan
modal-modal yang telah dikeluarkan pada masa-masa pemenangan pemilu yang
jumlahnya sangat besar, terjadilah praktik korupsi dalam sistem pemerintahan.
Inilah salah satu alasan kenapa praktik korupsi sangat marak terjadi didalam
sistem pemerintahan dan sangat sulit untuk dibendung. Pasalnya, selain modal
yang telah dikeluarkan penguasa harus kembali, penguasa tersebut masih harus menyetor
pinjaman yang telah mereka pinjam dari para cukong, maka segala cara akan
ditempuh untuk mengembalikan modal-modal tersebut, dan sekaligus mulai
mengumpulkan modal untuk pemilu berikutnya.
Jika kapitalisme merasuk
kedalam jiwa perpolitikan, demokrasi akan menjadi rusak. Ketika budaya
kapitalis menancap di jantung politik, ideologi menjadi tak penting.
Keegoisan penguasa makin menonjol, mereka hanya akan mementingkan dirinya
sendiri, tak peduli urusan rakyat. Politik yang berintikan semangat untuk
memerdekakan rakyat agar dapat hidup secara bermartabat telah diubah
menjadi “arena dagang”. Tiap pemilu tiba, masyarakat hanya menunggu faktor
materi, bukan mencari negarawan sejati. Suara diberikan pada kandidat yang
memberi siraman uang lebih banyak. Uang menjadi sebuah kenikmatan, suara
rakyat adalah suara uang. Pada akhirnya kekuatan politik ditentukan oleh
kekuatan kapital. Penguasa tak berdaya disetir pemilik modal.